Ruang Rasa Sebelum Prestasi
"“Mental Health anak SD” menjadi topik pembicaraan yang hangat akhir-akhir ini. Ketika kabar seorang anak SD bunuh diri mencuat dalam pemberitaan nasional, orang dewasa sibuk menebak-nebak apa alasan anak sekecil itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Pendidikan di sekolah selama ini telah membekali peserta didik dengan ilmu sains, matematika, dan hafalan doa"
Oleh : Ulul Azmiatul Mutoharoh, S.Pd
Guru SDIT Nurul Fikri
“Mental Health anak SD” menjadi topik pembicaraan yang hangat akhir-akhir ini. Ketika kabar seorang anak SD bunuh diri mencuat dalam pemberitaan nasional, orang dewasa sibuk menebak-nebak apa alasan anak sekecil itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Pendidikan di sekolah selama ini telah membekali peserta didik dengan ilmu sains, matematika, dan hafalan doa. Namun ada satu hal yang luput dari kita, yaitu kemampuan mengenali dan mengelola emosi. Di titik inilah peringatan Nelson Mandela terasa menohok: “Tidak ada cerminan jiwa suatu masyarakat yang lebih jelas selain cara ia memperlakukan anak-anaknya.” Jika demikian, apa sebenarnya yang sedang dipantulkan oleh wajah pendidikan dan pengasuhan kita hari ini?
Banyak pihak yang terkejut dan merasa tidak percaya atas kabar berita meninggalnya anak SD di Nusa Tenggara Timur. Di usia belia ketika dunia berisi cita-cita polos dan dipenuhi permainan, muncul kenyataan yang begitu getir. Ruang-ruang percakapan dipenuhi oleh berbagai macam spekulasi : ada yang menyalahkan pola asuh orang tua, ada yang menganggap kurangnya iman, ada yang menuding pengelolaan gawai dan penggunaan media sosial, ada yang terang-terangan menyebut kemiskinan struktural. Namun ditengah riuhnya penilaian itu, rasanya perlu bagi kita berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri dengan lebih jujur.
Anak-anak mempelajari banyak hal disekolah : berhitung, menghafal, berdiskusi, dan membaca ratusan teori yang ada dibuku. Namun, apakah proses pembelajaran juga membekali kemampuan untuk mengenali diri sendiri? Apakah terdapat ruang untuk belajar menerima kekecewaan, kesedihan, atau perasaan tidak dihargai yang kerap tersimpan dalam diri? Persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai sekadar tragedi individual. Namun ini adalah cerminan dari sistem pendidikan dan pola asuh yang belum bisa menyentuh perasaan hingga luka batin anak-anak.
Era teknologi ini, banyak orang berpegang pada asumsi kuno bahwa anak-anak belum cukup dewasa untuk merasakan rasa sedih berkepanjangan. Padahal tragedi ini menjadi realitas yang menunjukkan hal sebaliknya. Di era disrupsi ini, sangat mungkin sekali jika anak kecil mendapatkan tekanan akademik yang berat, tuntutan untuk menjadi siswa berprestasi, serta kencangnya arus informasi yang tidak diimbangi dengan kematangan emosional dan mental. Ketika dirumah, anak dijadikan objek ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi, sementara fasilitas yang dibutuhkan tidak terpenuhi karena mahalnya harga bahan pokok yang disebabkan oleh inflasi. Ironisnya, ditengah semua itu anak-anak belum diajarkan untuk mengenali emosinya.
Kata-kata “jangan cengeng”, “ah begitu saja”, “kamu harus kuat”, menjadi budaya yang memaksa anak terlatih untuk menyembunyikan perasaanya. Padahal secara psikologis, anak usia sekolah dasar belum mempunyai kematangan emosional dan kemampuan mengelola stress. Kondisi tersebut bukan menunjukkan kelemahan, melainkan tahap perkembangan yang masih memerlukan bimbingan. Dan disinilah anak-anak membutuhkan pendampingan, pelukan, dan percakapan. Bukan hanya sekedar nasihat. Lalu, bagaimana Islam memandang luka batin dan kesedihan menjadi sebuah keniscayaan?
Paradigma Islam dalam Memandang Kesedihan
Islam tidak pernah meniadakan rasa sedih dan luka batin. Justru sebaliknya, Islam mengakui bahwa luka batin dan rasa sedih menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia. Dalam sejarah perjalanan dakwah Rasulullah Muhammad SAW, terdapat masa yang dikenal dengan Tahun Kesedihan. Hal itu terjadi ketika Rasulullah ditinggal oleh kedua penopang hidupnya, yaitu Khadijah dan Abu Thalib. Duka itu begitu mendalam, hingga Allah menurunkan Surat Ad Duha. Surat tersebut menjadi isyarat bahwa duka bukanlah cela, melainkan fase kemanusiaan yang layak untuk ditemani dan diteguhkan. Tidak hanya itu. Al Qur’an juga mengabadikan kisah Nabi Ya’qub A.S dalam Surat Yusuf. Dikisahkan bahwa penglihatan Nabi Ya’qub A.S memutih karena terlalu sering menangis, tersebab rasa rindu dan sayang kepada anaknya. Dan akhirnya Allah mendengar do’a Nabi Ya’qub dengan mempertemukan beliau dengan anaknya, Nabi Yusuf, A.S di Mesir.
Kisah-kisah tersebut menjadi catatan penting bahwa kesedihan tidak identik dengan lemahnya iman. Mengakui luka bukan berarti lemah. Justru hal tersebut menjadi bagian dari kejujuran batin seorang manusia. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam memvalidasi emosi dan menghadirkan penguatan spiritual sebagai pendamping, bukan menghapus rasa. Jika Islam sedemikian manusiawi dalam memandang luka batin, lalu bagaimana semestinya pendidikan Islam dalam memberikan aksi nyata?
Morning Spirit : Menanam Iman, Menjaga Jiwa
Ditengah kegelisahan itu, SDIT Nurul Fikri sudah menjawabnya dengan mengambil langkah sederhana berupa Morning Spirit. Setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, guru dan murid duduk setara dalam suasana yang hangat. Dalam program rutin itu, guru dan murid saling menyapa, menanyakan kabar, hingga memberikan ruang untuk berbagi cerita. Disitulah terjadi diskusi ringan tentang cita-cita, masa depan, hingga kontrol amal ibadah harian. Semua dilakukan dengan atmosfer yang hangat dan tidak ada penghakiman. Diakhir, ditutup dengan renungan singkat tentang rasa syukur, sabar, serta tindakan-tindakan sederhana dalam menyikapi kegagalan.
Yang terjadi memang tampak sederhana, namun dampaknya sangat terasa. Anak-anak merasa didengar, bukan hanya diarahkan. Anak-anak merasa dilihat, bukan sekedar dinilai. Sejak dini, anak-anak ditanamkan bahwa penanaman iman bukan hanya sekedar ritual, melainkan sumber ketenangan dan penopang ketika hati goyah. Sekolah perlahan menjadi lingkungan yang sangat nyaman untuk ditinggali. Kegagalan bukan untuk ditertawakan, melainkan kesempatan emas dalam proses perbaikan. Morning spirit bukan program besar dengan biaya tinggi, melainkan konsistensi kecil yang dikerjakan setiap hari namun justru di sanalah fondasi kesehatan jiwa mulai dibangun.
Pada akhirnya, peristiwa ini seharusnya tidak hanya sekedar kabar duka yang berlalu begitu saja bersama waktu, melainkan menjadi refleksi. Tanggung jawab menjaga kesehatan jiwa anak bukan milik satu pihak, melainkan kerja kolektif yang menuntut kehadiran, empati, dan berani untuk berbenah. Pendidikan yang memanusiakan manusia seharusnya bukan hanya sekadar ajang kontestasi prestasi, tetapi juga menyediakan ruang aman bagi emosi untuk divalidasi dan diarahkan. Sebagaimana diingatkan oleh Frederick Douglass, “It is easier to build strong children than to repair broken men.”
Jika para nabi pun mengalami kesedihan dan Allah memberikan penghiburan, mengapa anak justru dituntut untuk selalu "kuat"? Padahal, kebutuhan utama pada masa perkembangan bukan sekadar nasihat, melainkan ruang yang aman untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan. Kehadiran orang dewasa yang bersedia mendampingi, mendengarkan, dan membersamai setiap emosi anak merupakan bentuk dukungan yang jauh lebih bermakna.