Menagih Janji Pendidikan : Perspektif Budaya Makanan Rawon
"Deep Learning, mengantarkan kita pada paradigma mengenai konsep pendidikan yang menekankan pembelajaran bermakna, kontekstual, dan berakar pada pengalaman nyata dengan tetap mengutamakan kebebasan individu dalam proses belajar dan memberi kesempatan untuk menentukan tujuan, metode, dan materi belajar yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan karakter siswa. Dengan maksud serius tapi santai, setidaknya dalam konteks budaya, pendidikan seharusnya layaknya makanan tradisional dan negara. Salah satu pendekatan yang unik dalam memahami karakter adalah melalui filosofi di balik kuliner tradisional. Salah satunya adalah makanan tradisional khas dari Jawa Timur yaitu makanan rawon."
Oleh : Ulul Azmiatul Mutoharoh, S.Pd
Guru SDIT Nurul Fikri Sidoarjo
Deep Learning, mengantarkan kita pada paradigma mengenai konsep pendidikan yang menekankan pembelajaran bermakna, kontekstual, dan berakar pada pengalaman nyata dengan tetap mengutamakan kebebasan individu dalam proses belajar dan memberi kesempatan untuk menentukan tujuan, metode, dan materi belajar yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan karakter siswa. Dengan maksud serius tapi santai, setidaknya dalam konteks budaya, pendidikan seharusnya layaknya makanan tradisional dan negara. Salah satu pendekatan yang unik dalam memahami karakter adalah melalui filosofi di balik kuliner tradisional. Salah satunya adalah makanan tradisional khas dari Jawa Timur yaitu makanan rawon.
Integrasi Budaya dalam Pendidikan
Seperti yang kita tahu, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan nilai-nilai yang sesuai dengan konteks budaya. Setiap masyarakat berupaya menerapkan kebudayaannya dengan proses adaptasi tertentu sesuai dengan corak masing-masing periode jaman kepada generasi selanjutnya melalui pendidikan. Dalam konteks budaya Indonesia, pendidikan harus memperhatikan nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, dan kekeluargaan. Hal ini sangat penting dalam pembentukan generasi muda yang memiliki akhlak dan moral yang baik. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam bukunya Dasar-Dasar Pendidikan (1952), Pendidikan adalah proses pembentukan manusia yang berbudaya, berakhlak, dan berpengetahuan. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat membentuk karakter dan nilai-nilai tersebut.
8 Profil Lulusan Anak Indonesia Hebat merupakan pedoman karakter yang dirancang untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat dan adaptif terhadap tantangan global. Profil ini mencakup delapan aspek utama: Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi. Dalam konteks ini, pendidikan karakter, yang ditanamkan melalui sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial, memiliki peran fundamental dalam membentuk jati diri bangsa. Dengan menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan yang kuat, generasi muda dapat berkembang menjadi pribadi yang visioner, berpikir analitis, serta menjunjung tinggi moral dan etika dalam setiap aspek kehidupan (‘Aini, 2024).
Jalan Menagih Janji Pendidikan
Dasar pemahaman dan sudut pandang diatas rasanya cukup bagi saya untuk menyatakan bahwa pendidikan karakter menjadi krusial. Karakter yang kuat tidak hanya dibangun melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pemahaman terhadap budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan, termasuk makanan tradisional, memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan nilai-nilai suatu masyarakat. Kuliner khas setiap daerah turut berperan sebagai cerminan jati diri sosial masyarakat, merefleksikan nilai-nilai budaya dan tradisi yang melekat dalam kehidupan (Roza, 2023). Dan makanan rawon adalah representasi dari pemaknaan bagaimana pendidikan karakter dilaksanakan.
Tunggu dulu, bukan berarti perlu ada kegiatan makan bersama dengan menu rawon setiap hari di sekolah. Dengan batasan-batasan tertentu yang ingin saya uraikan dalam gagasan ini, pendidikan dalam mencetak lulusannya, perlu sesekali menjadi seperti makanan rawon yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyat tanpa memandang status sosial. Tawaran untuk mengadopsi filososi makanan tradisional rawon menjadi jalan pintas yang saya pilih dalam upaya menagih janji pendidikan dengan tetap mengudarakan pemikiran.
Lebih dari Sekadar Kuliner
Rawon bukan hanya hidangan khas Jawa Timur, tetapi juga memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan berbagai aspek pembentukan karakter. Dari segi keimanan dan ketakwaan, rawon dibuat dari bahan halal, mengajarkan kesadaran untuk melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Kewargaan tercermin dalam perannya sebagai kuliner khas lokal, mengajarkan pentingnya melestarikan keberagaman Indonesia. Proses memasak rawon juga membutuhkan penalaran kritis, terutama dalam memilih kluwek yang tepat agar menghasilkan cita rasa terbaik. Kreativitas hadir dalam inovasi resep, seperti membuat rawon yang lebih sehat tanpa kehilangan keasliannya. Selain itu, memasak dan menikmati rawon sering kali dilakukan bersama keluarga atau komunitas, memperkuat kolaborasi.
Dari sisi kemandirian, memasak rawon melatih seseorang untuk mandiri dalam menyiapkan dan mengolah bahan tanpa bergantung pada orang lain. Sementara itu, rempah-rempah dalam rawon memiliki manfaat kesehatan, yang mendukung gaya hidup sehat. Terakhir, rawon juga menjadi media komunikasi, karena sering disajikan dalam acara keluarga atau sosial, memperkuat interaksi dan hubungan antarindividu dalam masyarakat.
The Self of Makanan Rawon
Rawon, hidangan khas Jawa Timur dengan kuah hitam pekatnya, telah lama menjadi simbol kuliner yang merakyat, dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial. Keberadaan rawon yang dapat dijumpai mulai dari warung pinggir jalan hingga restoran mewah mencerminkan inklusivitasnya dalam budaya kuliner Indonesia.
Filosofi inklusivitas yang tercermin dalam makanan rawon sejalan dengan prinsip pendidikan karakter yang harus dapat diakses oleh semua siswa tanpa diskriminasi. Pendidikan inklusif menekankan bahwa setiap murid, termasuk mereka dengan kebutuhan khusus, berhak mendapatkan pendidikan yang setara dan berkualitas, semua murid mempunyai hak untuk merasa aman dan nyaman, sehingga pada akhirnya ketika lulus, murid mampu mengembangkan diri, membuat pilihan, berkomunikasi, menjadi bagian dari komunitas, mampu hidup dalam situasi dunia yang terus berubah, menghadapi banyak transisi dalam hidup, dan mampu memberi kontribusi yang bernilai (Rahim, 2016).
Demarkasi Makanan Rawon
Rawon sebagai makanan tradisional dapat menjadi refleksi bagaimana nilai-nilai budaya perlu dijaga, tetapi juga beradaptasi dengan perkembangan zaman. Misalnya, dalam era modern, muncul pertanyaan tentang bagaimana bahan-bahan tradisional seperti kluwek tetap relevan dan dapat diakses dengan mudah di tengah globalisasi pangan. Dengan membahas rawon, siswa dapat diajak untuk menganalisis bagaimana kebiasaan kuliner lokal bertahan atau bahkan berinovasi di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang dinamis. Lebih jauh, rawon dapat menjadi simbol bagaimana pendidikan karakter melatih siswa untuk tidak menerima segala sesuatu begitu saja, tetapi mampu mengkaji dampak dan konsekuensi dari setiap perubahan sosial.
Seperti halnya proses memasak rawon yang membutuhkan pemahaman terhadap keseimbangan rasa dan teknik pengolahan, siswa juga perlu memahami keseimbangan dalam kehidupan sosial tentang bagaimana mempertahankan budaya lokal tanpa menutup diri dari kemajuan zaman. Dengan demikian, pendidikan karakter di sekolah dapat mempersiapkan siswa menjadi individu yang tidak hanya berpegang pada nilai-nilai moral, tetapi juga mampu berpikir kritis dan responsif terhadap dinamika sosial yang terus berkembang. Sikap kritis ini perlu ditumbuhkan dalam dinamika perubahan sosial di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity)
Prestige Makanan Rawon
Rawon masih menempati posisi terhormat dalam masyarakat, tidak hanya sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga sebagai hidangan utama dalam berbagai perayaan budaya dan acara penting. Dalam tradisi masyarakat Jawa Timur, rawon sering disajikan dalam hajatan, pernikahan, hingga acara adat sebagai simbol kehangatan, kebersamaan, dan keluhuran tradisi. Keberadaannya yang terus dipertahankan menunjukkan bahwa makanan ini memiliki prestige tersendiri,
Seperti halnya prestige makanan rawon, pendidikan karakter dalam sebuah sekolah seharusnya demikian bukan? Sekolah yang berorientasi pada pendidikan karakter akan melahirkan siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi dan keterampilan yang selaras dengan nilai-nilai moral, etika, serta identitas budaya. Ketika sebuah sekolah mampu menanamkan karakter kuat dalam diri siswanya—seperti disiplin, kemandirian, kolaborasi, dan kreativitas—maka prestige sekolah akan meningkat, diakui oleh masyarakat, serta menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi.
Bisakah Menagih Janji Pendidikan?
Memang, pendidikan telah lama diakui sebagai eskalator ekonomi dan kesejahteraan sosial yang memungkinkan individu meningkatkan taraf hidup. Menurut Psacharopoulos dan Patrinos (2018), setiap tahun pendidikan dapat meningkatkan pendapatan individu secara signifikan dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Selain itu, pendidikan yang berkualitas tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat stabilitas sosial, mengurangi tingkat kemiskinan, serta meningkatkan mobilitas sosial.
Namun, apakah janji pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan dan ketimpangan sosial benar-benar telah terpenuhi bagi semua lapisan masyarakat? Jika pendidikan memang menjadi kunci kesejahteraan, mengapa masih ada kesenjangan akses antara daerah perkotaan dan pedesaan? Bagaimana mungkin sekolah-sekolah di berbagai wilayah masih kekurangan fasilitas dasar, padahal pendidikan dijanjikan sebagai hak fundamental bagi setiap warga negara?
Tapi kembali lagi, dalam konteks ini, apakah kita berperan sebagai penuntut janji dari sistem pendidikan? Atau malah kita menjadi pihak yang harus membayar janji pendidikan yang seharusnya mampu membangun karakter baik, inklusif, berpikir kritis, hingga menaikkan prestige dari pendidikan itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut kita untuk melakukan refleksi mendalam terhadap realitas pendidikan saat ini, di mana idealisme tentang pendidikan sebagai eskalator kesejahteraan masih jauh dari kenyataan bagi sebagian besar masyarakat.