Di Balik Lima Waktu, Ada Proses Menumbuhkan Makna
"SDIT Nurul Fikri (NUFI) menanamkan kecintaan terhadap ibadah melalui pembiasaan salat berjamaah, salat Dhuha, Tahajjud Call, dan penguatan karakter. Melalui keteladanan guru serta sinergi dengan orang tua, anak dibimbing untuk memahami dan mencintai salat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Perintahkan anak-anak kalian untuk salat ketika berusia tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud no. 495, dinilai hasan sahih)."
Di Balik Lima Waktu, Ada Proses Menumbuhkan Makna
Oleh : Ulul Azmiatul Mutoharoh, S.Pd., Gr.
Ketika Generasi Alpha Bertanya
“Kenapa sih aku harus salat terus?” Pertanyaan sederhana ini mungkin pernah terdengar dari seorang anak di rumah maupun di sekolah. Bagi orang dewasa, salat lima waktu merupakan kewajiban yang sudah semestinya dilaksanakan. Namun, bagi anak-anak Generasi Alpha yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, banyak hal tidak berhenti pada apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu perlu dilakukan. Sebagai generasi digital native, mereka terbiasa berinteraksi dengan informasi yang berlimpah, mengeksplorasi berbagai hal, dan menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya melalui beragam sumber. Lingkungan ini turut membentuk cara mereka belajar dan mengajukan pertanyaan. Mereka tidak selalu puas dengan instruksi; mereka juga ingin mengetahui alasan di baliknya.
Pertanyaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa anak enggan beribadah atau menolak kewajiban salat. Justru, pertanyaan itu dapat menjadi pintu masuk untuk memahami cara mereka memaknai sesuatu. Dibandingkan generasi sebelumnya ketika seusia mereka, anak-anak saat ini mungkin memiliki akses informasi yang lebih luas dan kesempatan lebih besar untuk membandingkan berbagai jawaban. Namun, akses informasi yang luas tidak otomatis membuat mereka lebih bijaksana atau lebih matang dalam berpikir. Di sinilah peran orang dewasa menjadi penting: bukan sekadar memberikan perintah atau mengharapkan anak menerima semua penjelasan tanpa bertanya, melainkan mendampingi rasa ingin tahu mereka dengan jawaban yang tepat, dialog yang terbuka, dan keteladanan yang nyata.
Ketika Harapan Mendahului Proses
Dalam mendidik anak, kita sering kali berharap hasil yang baik dapat terlihat secepat mungkin. Kita ingin anak segera memahami pentingnya salat, bergegas ketika azan berkumandang, tertib saat berjamaah, dan melaksanakan ibadah tanpa harus berulang kali diingatkan. Ketika hal-hal tersebut belum berjalan sesuai harapan, tidak jarang kita merasa kecewa dan menganggap anak belum memiliki kesadaran beribadah. Padahal, ada proses panjang di antara mengenalkan kewajiban, membentuk kebiasaan, memahami makna, hingga tumbuhnya kesadaran untuk menjalankannya. Setiap tahap membutuhkan pendampingan yang tidak selalu menghasilkan perubahan secara instan.
Anak-anak yang masih berada dalam proses tumbuh kembang perlu belajar mengelola emosi, mengendalikan diri, dan memahami alasan di balik aturan yang harus mereka patuhi. Menurut National Association for the Education of Young Children (NAEYC) dalam panduan Developmentally Appropriate Practice, perkembangan anak perlu dipahami dengan mempertimbangkan tahap perkembangannya, pengalaman, serta lingkungan tempat mereka belajar. Kemampuan regulasi diri tidak terbentuk dalam semalam, tetapi berkembang melalui pengalaman, rutinitas yang konsisten, dan pendampingan orang dewasa. Karena itu, ketika anak sesekali kehilangan fokus atau masih membutuhkan pengingat dalam beribadah, kita perlu memahami perilaku tersebut sekaligus mengajarkan apa yang diharapkan melalui contoh dan bimbingan yang konsisten. Bukan berarti membiarkan perilaku yang kurang tepat, melainkan membantu anak belajar mengelola diri dan menjalankan kebiasaan baik secara bertahap.
Di sinilah orang dewasa juga perlu belajar bersabar. Tugas mendidik bukan hanya memastikan anak melakukan apa yang diperintahkan hari ini, tetapi juga membantu mereka memahami nilai di baliknya agar kebiasaan tersebut terus bertumbuh. Kita boleh memiliki harapan yang tinggi, tetapi harapan itu perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap tahap perkembangan anak. Sebab, pendidikan ibadah bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat menunjukkan hasil, melainkan ikhtiar berkelanjutan untuk menanamkan nilai, memberikan teladan, dan menemani anak dalam proses pertumbuhannya.
Membiasakan Salat, Menumbuhkan Kesadaran
Pembiasaan merupakan salah satu langkah penting dalam mengenalkan ibadah kepada anak. Salat yang dilaksanakan secara teratur membantu anak mengenali waktu ibadah, mengikuti tata cara salat, dan belajar menempatkan kewajiban di tengah aktivitas sehari-hari. Penelitian Muslihah dan Akbari (2025) dalam Golden Age: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini membahas pembiasaan doa harian melalui rutinitas terstruktur, keteladanan guru, pengulangan, dan pembelajaran yang terintegrasi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembiasaan yang konsisten dapat mendukung perkembangan kedisiplinan dan kemandirian anak. Hal ini memberikan gambaran bahwa kebiasaan baik perlu dibangun melalui praktik yang berulang dan lingkungan yang mendukung, bukan hanya melalui instruksi lisan.
Namun, membiasakan anak melaksanakan salat perlu berjalan beriringan dengan upaya menumbuhkan pemahaman. Dalam panduan Developmentally Appropriate Practice, National Association for the Education of Young Children (NAEYC) menekankan bahwa pendidik perlu mengajarkan perilaku yang diharapkan melalui contoh, bimbingan, dan rutinitas yang konsisten, sambil mempertimbangkan tahap perkembangan setiap anak. Jika diterapkan dalam pendidikan ibadah, prinsip ini mengingatkan kita bahwa anak tidak cukup hanya diarahkan untuk mengikuti gerakan imam atau berdiri di saf. Mereka juga perlu diberi penjelasan yang sesuai dengan usianya tentang mengapa salat dilaksanakan, bagaimana menjaga adab ketika beribadah, dan apa arti salat dalam kehidupan seorang muslim. Dengan demikian, rutinitas menjadi kesempatan belajar, bukan sekadar kegiatan yang diulang setiap hari.
Keteladanan orang dewasa turut menentukan bagaimana anak belajar memaknai kebiasaan tersebut. Penelitian Ruswandi, Quroini, dan Shalihah (2022) mengenai keteladanan orang tua dalam pembiasaan ibadah pada anak usia 4–6 tahun menyoroti pentingnya contoh nyata dan bimbingan yang berkelanjutan dalam mendorong keterlibatan anak dalam kegiatan ibadah. Anak belajar bukan hanya dari apa yang disampaikan kepada mereka, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dalam keseharian. Ketika guru mendampingi wudu dengan sabar, menjaga ketertiban salat berjamaah, dan menunjukkan kesungguhan dalam beribadah, anak memperoleh contoh konkret tentang nilai yang sedang diajarkan. Karena itu, pembiasaan, pemahaman, dan keteladanan bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam mendampingi anak bertumbuh dalam ibadah.
Ikhtiar NUFI Menanamkan Kebiasaan Baik
Di SDIT Nurul Fikri (NUFI), pendidikan ibadah diupayakan melalui pembiasaan yang terintegrasi dalam keseharian anak di sekolah. Salat Zuhur dan Asar dilaksanakan secara berjamaah dengan pendampingan asatidz dan asatidzah. Anak-anak juga dibimbing dalam berwudu, sementara waktu menunggu salat dimanfaatkan untuk murojaah. Melalui rutinitas ini, anak tidak hanya memperoleh kesempatan untuk melaksanakan ibadah secara teratur, tetapi juga belajar menjaga adab, mengikuti arahan, dan menghargai orang lain yang sedang beribadah. Pendampingan guru menjadi bagian penting dalam proses tersebut, terutama ketika anak masih belajar menerapkan kebiasaan baik secara konsisten.
Selain ibadah wajib, NUFI juga menghadirkan program yang memperluas pengalaman anak dalam beribadah, seperti salat Dhuha, Tahajjud Call, dan Character Building and Life Skill yang menjadi agenda bulanan rutin untuk membahas ibadah, fikih, serta persiapan memasuki usia akil balig. Setiap program memiliki peran dalam mendampingi anak mengenal dan mempraktikkan ajaran Islam sesuai tahap perkembangannya. Melalui program Character Building and Life Skill, misalnya, anak memiliki ruang untuk memperdalam pengetahuan agama, sedangkan pembiasaan ibadah memberi mereka kesempatan untuk menerapkannya dalam keseharian. Ikhtiar ini sejalan dengan arah pendidikan NUFI yang menempatkan ketaatan beribadah dan karakter mulia sebagai bagian dari pembentukan pribadi muslim. Tentu, tumbuhnya kesadaran beribadah membutuhkan proses yang berkelanjutan. Karena itu, NUFI berupaya menghadirkan lingkungan yang tidak hanya mengajak anak beribadah, tetapi juga mendampingi mereka untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memahami makna ibadah dalam kehidupannya.
Bukan Sekadar Menyuruh, tetapi Menuntun
Pada akhirnya, mendidik anak untuk mencintai ibadah bukanlah tentang seberapa cepat mereka mampu menjalankan semua kewajiban tanpa diingatkan. Melainkan tentang bagaimana kita mendampingi mereka dalam setiap tahap pertumbuhannya. Ada kalanya anak membutuhkan penjelasan, ada kalanya mereka perlu diingatkan, dan ada kalanya mereka belajar lebih banyak melalui teladan daripada kata-kata. Pertanyaan seperti “Kenapa sih harus salat terus?” tidak harus disambut dengan teguran, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk menumbuhkan pemahaman. Sebab, tugas orang dewasa bukan hanya memastikan anak melaksanakan ibadah hari ini, tetapi juga menanamkan nilai yang kelak diharapkan tumbuh menjadi kesadaran dalam dirinya.
Ikhtiar inilah yang terus diupayakan NUFI melalui pembiasaan ibadah, pendampingan asatidz dan asatidzah, serta penguatan pemahaman keislaman dalam keseharian di sekolah. Melalui berbagai program tersebut, NUFI berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang membantu anak mengenal, mempraktikkan, dan memahami ibadah secara bertahap. Tentu, proses ini tidak berhenti di sekolah. Sinergi antara guru dan keluarga menjadi bagian penting agar nilai-nilai yang dipelajari dapat terus diperkuat dalam kehidupan sehari-hari. Karena menumbuhkan kecintaan terhadap ibadah bukan pekerjaan sehari atau semata-mata hasil sebuah program, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan doa. Hari ini kita mendampingi anak-anak belajar salat; semoga kelak salat menjadi kebutuhan hati yang mereka jaga dengan kesadaran dan kecintaan. (Ulul)

